Carisa dan Kiana- Nisa Rahma

  • IMG-20170711-WA0003-1Judul: Carisa dan Kiana
  • Penulis: Nisa Rahma
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Kota Terbit: Jakarta
  • Tahun Terbit: 2017
  • Deskripsi Fisik: 208 hlm; 20 cm
  • ISBN: 978-602=03-3957–3

Blur…

Lima fakta tentang Carisa: pintar berorganisasi, judes apalagi jika berhubungan dengan Stella, diam-diam punya bakat dalam bermusik, menyukai Rama (sahabatnya sendiri), dan menyinpan kisah kelam tentang keluarganya.
~
Lima fakta tentang Kiana: jagoan sains SMA Pelita Bangsa, pemalu, bersahabat dengan Stella si cewek populer, menjalin komunikasi misterius dengan cowok terkenal disekolahnya, dan menyayangi Papa melebihi apapun didunia.
~
Rama bersaing dengan Rico, pacar Stella, dalam pemilihan ketua OSiS SMA Pelita Bangsa. Strategi kampanye yang diusung Carisa sebagai ketua tim sukses Rama, terbukti jitu. Stella jadi berang dan mengembuskan gosip tidak sedap tentang Carisa dan Rama.
~
Carisa berniat melabrak Stella. Namun karena hanya ada Kiana, dialah yang diserang Carisa hingga trjadi kecelakaan kecil. Orang tua Carisa dan Kiana pun dipanggil. Dipertemuan orang tua itu, satu rahasia tentang keluarga mereka terungkap.
~
Bagaimana Carisa dan Kiana menghadapi kenyataan baru yang mengubah cara pandang mereka akan hangatnya keluarga? Apa yang harus Carisa dan Kiana lakukan saat menyadari mereka sama-sama menyuakai Rama?
.

This is My Review…

Carisa dan Kiana bercerita tentang seorang Carisa yang dipilih menjadi ketua tim  sukses untuk suatu ajang pencalonan OSIS juga tentang Kiana yang bukan siapa-siapa dimata para siswa SMA Pelita Bangsa menjadi terdakwa atas kekesalan Carisa pada sahabatnya Stella. Alih-alih menyelesaikan masalah, Carisa dan Kiana terjerumus dalam masalah yang lebih rumit menyangkut orangtuanya. Apa yang terjadi antara orangtua mereka di masa lalu? Kamu pastikan sendiri jawabannya.

Carisa yang ternyata diam-diam  menyukai Rama, sang calon OSIS yang dinantikan oleh segenap warga Pelita Bangsa, namun harus menjauh dari Rama karna insiden yang terjadi antara Carisa dan Kiana. Dan lagi, didiskualifikasinya Rama dan diangkatnya Rico menjadi ketua OSIS membuat Carisa geram bukan main. Ketika perlahan Carisa ingin kembali mendekat dengan Rama, ia mememukan sesuatu yang selama ini disembunyikan Rama dan Kiana. Dalam dua kedaan yang sama-sama menyebalkan itu membuat Carisa menyetujui ajakan Rico.

“Kalau ada dua orang yang menyebalkan yang menjebvaklmu dalam situasi tidak mengenakkan seperti ini, tentu saja kau tidak akan memilih yang paling menyebalkan.” (Hal 98)

Sampai pada akhirnya, Carisa dan Kiana tahu sebenarnya apa yang terjadi diantara orang tua mereka dalam skala garis besarnya. Carisa yang belum mau memahami kedaan juga Kiana yang belum mau memaafkan apa yang dilakukan papanya -yang amat disayanginya- malah saling mendiamkan dan sama-sama menjauh. Berpura-pura tak pernah terjadi apa-apa juga tidak pernah menyelesaikan masalah bukan?

“Saat gue percaya gue lahir kedunia karna ada suatu sebab, saat itu gue berhenti menyalahkan diri sendiri. Setiap orang punyamasalah. Cara menyelesaikan maslah adalah dengan menghadapinya.” (Hal 135)

Belum lagi, semakin bertambah kedekatan Carisa dan Rico, semakin Caris sadar ternyata Rico bukanlah seorang yang selama ini seperti apa yang orang-orang lain bilang. Dengan dibantu Rico juga akhirnya masalahnya dengan Rama, Kiana juga bahkan orang tuanya terasa lebih mudah. Walau itu semua dilakukan Rico tanpa sadar. Apa sih yang dilakukan Rico? Kamu harus baca sendiri dan menyelam dalam kisah Carisa dan Kiana ini.

Sadar ataupun tidak, penulis mampu membuatku terhanyut dalam dunia SMA, yah karna memang cerita ini bergenre teenfiction. 

Carisa dan Kiana seolah-olah membuatku sadar, bahwa bukan hanya dengan perkataan yang mampu mebuat rasa cinta terungkapkan. Tapi, dengan segala perbuatan dan keikhlasan juga penerimaan cinta lebih indah untuk dirasakan. 

Hanya sayangnya, menurutku ada beberapa detail yg penulis kurang mendalami. Membuatku masih merasa ganjil dengan apa-apa yang sengaja penulis tak ungkapakan. Padahal sudut pandang yang dipakai itu sudut pandang penulis sendiri.

Tapi dari keseluruhan membaca Carisa Dan Kiana memang sangat nyaman. 

Dan buat kamu, yang mencari buku bacaan ringan, menyenangkan dan menghibur tapi punya kisah yg menakjubkan Carisa Dan Kiana cocok buat kamu cemil deh. Hehehe…

Ouh yah, tokoh favoriteku disini adalah Rico. Karna Rico ini punya banyak misteri juga ternyata Rico ini punya sudut pandang yang menakjubkan dalam hidupnya. 

Pokoknya, kalau kamu baca buku ini kamu akan merasakan sendiri deh fangirlan sama Rico. Hehehe..

See You..

Salam Literasi….
 

[Review Novel] The Forbidden Wish by Jessica Khoury

 IMG-20170615-WA0018-1

  • Judul : The Forbidden Wish
  • Penulis : Jessica Khoury
  • Penerjemah : Mustika
  • Penerbit : Penerbit Spring
  • Kota Terbit : Depok
  • Tahun Terbit : 2017
  • Cetakan : Cetakan Pertama
  • Deskripsi Fisik : 404 hal; 20 cm
  • ISBN : 978-602-60443-3-4

 

Gadis itu adalah Jinni terkuat dari semua jin. Pemuda itu adalah pencuri jalanan. 

Saat Aladin menemukan lampu Zahra, gadis itu dilontarkan kembali ke dunia yang tidak dilihatnya selama ratusan tahun. Kemerdekaannya yang terikat pada lampu mengharuskannya untuk memenuhi tiga permintaan Aladinm

Namun, saat raja dari para jin menawarkan kebebasan kepada Zahra, gadis itu mengambil kesempatan itu, hanya untuk menyadari bahwa dia jatuh cinta pada pencuri jalanan itu

Saat kemerdekaannya hanya bisa diraih dengan mengkhianati Aladin, jalan manakah yang akan dia pilih? Apakah kebebasannya sepadan dengan kehancuran hatinya?

And… This is My Review…

  • Menceritakan tentang…

The Forbidden Wish adalah salah satu buku yang diterjemahkan dan di terbitkan oleh Penerbit Spring. Dibuku ini tokoh utamanya adalah Zahra. Zahra adalah seorang jinni yang terkurung dalam lampu selama ratusan tahun. Ketika Aladdin berhasil mendapatkan lampu Zahra, Aladdin secara otamatis menjadi tuannya sebagaiman mengikuti takdir lampu tersebut. Aladdin juga mendapatkan tiga kesempatan meminta segala hal yang dia inginkan pada Zahra Tetapi, setiap permintaan juga punya harga.

“Tiga permohonan. Apapun yang aku inginkan?”

“Apapun yang ada didunia ini, kalau kau bersedia untuk membayar harganya.” (Hal 24)

Lalu kemudian, Aladdin tidak membuat setiap permintaanya mudah. Ia malah memberikan waktu pada tiap-tiap permintaannya. Sampai kemudian, di perjalanan menuju kota tempat tinggal Aladdin yaitu Parthenia, dengan tiba-tiba Nardhuka, raja dari para jin, memberikan tugas pada Zahra. Yang mana jika Zahra berhasil dengan tugas tersebut maka, imbalannya adalah sebuah kebebasan.  Dan kebebasan adalah, sesuatu yang sangat Zahra impikan sepanjang hidupnya.

Dengan menyanggupi tugas tersebut, Zahra harus mengkhianati Aladdin. Manakah yang harus Zahra pilih? Setia kepada Aladdin sebagai tuannya atau menjalankan sepenuhnya tugas dari Nardhuka sebagai rajanya? Dengan catatan, Zahra tidak mau mengalami nasib seperti apa yang dialami tuannya sebelum Aladdin.

  • Tema…

Tema yang disajikan didalam buku ini, adalah fantasy. Atau lebih tepatnya kisah ini adalah salah satu  dari banyaknya retelling kisah Aladin. Tak juga ketinggalan didalamnya ditaburi bumbu-bumbu romance yang bikin pembaca tambah greget pada kisahnya. Romance dan Fantasy didalamnya menurutku pas.

  • Tokoh dan Penokohan…

Tokoh utama disini adalah, Zahra sebagai seorang jinni. Aladdin sebagai tuan dari Zahra. Caspida putri kerajaan Parthenia, Darian pangeran dari Parthenia. Rahzad pangeran dari Istaria. Ensi, Khavar, Raz, Nessa, pasukan dari Garda Putri. Nardhuka raja dari bangsa Jin. Sulifer penasihat raja. Zhian pangeran dari Ambadia. Dan masih banyak pemeran pembantu lainnya.

Dan aku jatuh cinta pada tokoh Zahra dengan ketegasannya juga sifat-sifat yang ada pada dirinya. Bisa dikatakan dibuku ini, walaupun buku retelling Aladdin, tetapi Aladdinnya sendiri kurang menonjol, lebih kepada Zahra dan Caspida yang lebih berperan banyak.

Ada lagi, aku suka banget sama nama Rahzad Rai Asnam. Ah, ga tau kenapa, jadi fangirl sama namanya gini aku. Hehehe.. 

  • Alur…

Alur yang disajikan buat aku salut banget, karna alurnya halus, juga digunakan alur maju-mundur. Dengan perlahan-lahan dikupas sedikit demi sedikit rahasia-rahasia didalamnya. Juga kadang meletup-letup membuat aku pribadi sebagai pembaca kadang kaget bukan main.

  • Sudut Pandang…

Dibuku ini kisah yang mengalir diceritakan langsung oleh Zahra si tokoh utama. Secara otomatis sudut pandang keseluruhan itu memakai sudut pandang orang pertama.

  • Kelemahan dan kelebihan…

Kelebihan..

Menurutku covernya jadi kelebihannya, karna menarik banget. Lalu, tema dan alur ceritanya ga ketebak. Ga terlalu mengada-ngada. Bahasanya mengalir membuat pembaca nyaman. 

Kelemahan..

Kertas dari covernya agak tipis dari cover kebanyakan. Menurutku, hanya menurutku loh yah.. Lalu ada beberapa tokoh yang kurang menonjol, walaupun dari masih bisa ditutupi dari tokoh lainnya. Dan satu lagi… buku ini walaupun fantasy tapi aku fikir ga cocok untuk anak-anak dibawah umur. Ga tau kenapa, hanya menurutku lagi saja, ini karena didalamnya ada sentilan-sentilan yang aku rasa agak adult gitu. Walaupun sedikit, sedikit banget malah… 
 

  • Kesimpulan…

Buat kamu, yang suka baca buku fantasi. Harus banget baca buku ini. Kamu bakal dapet banyak kejutan didalamnya yang ga ada dibuku retteling Aladdin lainnya. Belum lagi, bahasanya yang mengalir dijamin bikin kamu ga bosen… 

  • At last…

Ini beberapa quote yg aku temuin didalam buku ini. Dan… aku suka.. semoga kamu juga ikutan suka yah… 

“Satu sahabat berhati mulia berharga layaknya sepuluh ribu unta bermuatan emas.” (Hal 16)

“Permohonan punya cara untuk memelintir dirinya sendiri, dan tidak ada yang lebih berbahaya dibandingkan mendapatkan keinginan hatimu.” (Hal 24)

“Kita punya hari ini dan kemarin, dan kita juga akan menyongsong hari esok.” (Hal 99)

“Bahwa terkadang kau tidak bisa memilih kejadian yang akan menimpamu,tetapi kau bisa memilih menjadi orang macam apa karena peristiwa tersebut.” (Hal 139)

“Mencintai seseorang tidak pernah salah. Cinta hanya terjadi begitu saja dan kita tak berdaya didalam genggaman kekuasaannya. (Hal 222)

“Tidak ada rahasia untuk mencapai kebahagian.” (Hal 260)

“Kalau kau tidak bebas untuk mencintai,kau tidak bebas sama sekali.” (Hal 332)

Sekian.. dan terimakasih..
Salam Literasi

[Review] MILEA: Suara dari Dilan by Pidi Baiq

IMG-20170615-WA0017-1

  •  Judul: Milea: Suara dari Dilan
  • Penulis: Pidi Baiq
  • Penerbit: Pastel Books
  • Kota Terbit: Bandung
  • Tahun Terbit: 2016
  • Cetakan: Ke II
  • Deskripsi Fisik: 360 halaman; 20,5 cm
  • ISBN: 978-602-0851-56-3

“Perpisahan adalah ucapan menyambut hari-hari penuh rindu.”  Pidi Baiq

Milea Suara dari Dilan adalah novel ketiga dari serial Dilan yang ditulis Pidi Baiq, berbeda dari dua novel sebelumnya, novel ketiga ini diambil kisahnya dari sudut pandang Dilan sebagai tokoh utama. Bahasanya seperti  tulisan balasan dari setiap apa yang Milea ceritakan pada buku pertama dan kedua. Dan aku sungguh menikmatinya.

Aku menikmati kisah Dilan dari sudut pandang Milea maupun Dilan sendiri karena pada dasarnya novel ketiga ini hanya kilas balik dari apa yang sudah diceritkan pada novel pertama dan kedua, hanya saja, disini Dilan menjelaskan segala hal yang menjadi titik konflik pada dua buku sebelumnya.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini pun cenderung sama dengan buku sebelumnya. Atau karna memang ini khas penulisnya yah? Ah, aku agak kurang ngeh ini cerita fiksi atau nyata jadinya. Menjerus pada kutipan kecil sebagai prolognya.

“Ini berarti bisa sama-sama kita katakan bahawa buku “DILAN, Dia adalah Dilanku”, dengan semua cerita didalamnya adalah bersandar pada apa yang bisa diingat dan dikatan oleh Lia”

Ah, sungguh walau bagaimanapun, fiksi ataupun tidak tetap saja, penulisnya terlalu mampu membuatku terkesima dalam setiap katanya.

Continue reading “[Review] MILEA: Suara dari Dilan by Pidi Baiq”

[Review Buku] Sehidup Sesurga by Fahd Pahdepie

Screenshot_2017-04-20-23-04-34

  • Judul: Sehidup Sesurga
  • Penulis: Fahd Pahdepie
  • Penerbit: Panda Media
  • Tebal Halaman: 210 Halaman
  • Cetakan: Pertama, Juni 2016
  • ISBN: 978 979 780 854 7

Mereka bilang, pernikahan kita tidak akan baik-baik saja. Bahwa kau tak akan bisa selalu membuatku bahagia dan aku akan membuat masalah-masalah dalam hidupmu jadi lebih rumit.

Namun, kita tahu lebih baik.

Kita tahu sebesar apa kita saling mencintai. Kitalah yang menjalini, menjadi tuan bagi hidup kita sendiri. Kita akan tunbuh menjadi sepasang manusia yang menumpas semua kesulitan bersama-sama. Kita tahu kalu kita berbeda, itulah serbabnya kita bertekad untuk saling melengkapi satu sama lain.

Di atas semua keraguan orang lain, kita akan saling menumbuihkan keyakinan. Di sana, kita bangun sebuah rumah dengan tangan dan jerih payah sendiri. Kita pasang pintu dan jendela. Kita isi dengan sofa, tempat tidur, karpet, mesin jahit, atau apa saja yang kita kumpulkan satu per satu dengan cinta.

Kemudian, kita akan tertawa, menceritakan semua ‘kata orang’ sambil bercanda, memaklumi semua keraguan mereka yang tak beralasan, sambil mensyukuri dan merayakan pernikahan kita yang memang tak punya alasan apa pun;

Kecuali karena kita saling mencintai, sehidup sesurga.

Continue reading “[Review Buku] Sehidup Sesurga by Fahd Pahdepie”

Aku bercerita #part 2

Seorang teman pernah berkata, “jika saja rindu itu berbentuk, pasti setiap orang punya gunung, entah hanya satu gunung karna hanya satu hal yang dia rindu atau dua, tiga, bahkan lebih, dan jika dipersatukan, akan jadi keajaiban dunia nomer satu dari segi apapun.” Kedengarannya memang konyol, tapi coba bayangkan jika memang rindu itu berbentuk? Harus punya berapa banyak lahan untuk menyimpan rindu yang semakinĀ  menggebu dari perorangnya?Karna tisp individu dari ketika menyimpan rindu bukan?

Atau, bisa-bisa rindu jadi barang jual beli karna tak kuat menahan dan memanggul sendiri? Juga jadi bahan kekayaan siapa yang lebih banyak menyimpan rindu, juga siapa yang menahan diri untuk tak merindu? Ah, nanti dunia semakin enah saja.

Konyol, memang konyol. Dan aku akui itu. Absurd, memang jelas, percakapan antara sahabat, rekan dan kawan memang lebih banyak absurd bukan? Setidaknya itu menurutku.

Tapi, sudahlah, lupakan wacana diatas. Kali ini biarkan aku bercerita kembali, yah bercerita tentang Dia. Tentang Dia yang selalu ada namanya dalam data rinduku. Tentang Dia yang selalu kuusahakan tersebut dalam doa. Tentang Dia yang kadang kala mampu membuatku menangis hanya karna mengingat namanya. Tentang dia yang mana jika dia dijadikan wacana dan cerita tak akan habis juga usai sebelum aku amnesia.

Kadang hidup itu lucu, Dia yang senantiasa aku rindu dalam ketidak stabilan fikiranku tak pernah sekalipun menoleh padaku. Juga tak segan-segan menjauh ketika kusapa dan bilang rindu. Lucu bukan? Dan aku tak menyerahkan rinduku begitu saja. Bebal? Mungkin! Aku tak tahu pasti itu. Bodoh? Bisa jadi, bahkan aku menyadarinya sejak lama.

Salah seorang teman yang mungkin sudah bosan dengan wacanaku tentang si Dia bilang, kenapa gak pindah kelain hati? Kenapa gak berusaha aja sih menerima bukan memberi atau jatuh hati berkali-kali, pada Dia yang sama sekali gak peduli.

Beda dengan salah satu sahabatku yang mengetakan, kenapa harus menahan rindu pada zat yang berwujud, bisa sakit, rusak, atau hilang, bahkan mati. Coba alihkan rindu yang besar itu pada Zat yang lebih kekal wujudnya. Yang gak bergerak satu centipun dari tempat Kuasanya. Juga tak tergoyahkan oleh apapun bentuknya, selain kehendaknya sendiri. Itu akan membuat hati yang merindu lebih tentram juga lebih damai dan berhenti bergejolak tak berarah sendiri.

Yah, yah, yah.. teman dan sahabatku mungkin ada benarnya, versi mereka. Tapi, tak bolehkah aku menentukan hati juga rinduku sendiri? Tak apa tak berbalas, dan aku tak masalah. Selama mata masih bisa memandang, hati masih bisa terasa nyeri, juga memory yang belum hilang. Ijinkan aku tetap merindukan Dia dalam bayang juga kenangan yang tersimpan nyata dalam memory hati juga ingatan.

20170212_135553

Biarkan, aku dengan kesendirianku yang sedang bernegoisasi dengan alam ini meleburkan rindu yang selalu terpatri untuk Dia yang belum tentu Maha Kuasa meridhoi. Untuk Dia yang terbiasa kupandang dari jauh tanpa berani menyapa, Untuk Dia yang mana namanya hanya mampu kusebut dalam doa.

Lelah? Sungguh, jelas kelelahan yang terpatri diwajah-wajah orang yang merindu itu tercetak jelas. Bukan hanya aku, kamu, Dia atau bahkan mereka. Semua yang merindu seperti menahan beban dipundaknya sendiri, lelah, berat, tapi apa daya?

Rindu yang hanya lebih mudah didekap dibanding dilepaskan itu memang menyiksa bukan? Dan hanya ikhlas juga bertahan sebagai wujud dari obat itu sendiri.

Ikhlas dalam apa? Ikhlas dalam memikul rindu itu, dan siap akan konsekuensi dari rasa itu sendiri. Seperti rindu tak berbalas, rindu tak tersampaikan atau bahkan rindu yang terabaikan. Seperti rindu yang kupertahankan untuk si Dia.

Bertahan untuk apa? Bertahan, untuk konsisten dengan rasa rindu itu sendiri. Sebelum hati dan diri tersakiti, dan kalah nanti. Setidaknya, bagi sang perindu bertahan adalah stamina rindu itu sendiri. Seperti aku yang telalu bertahan pada rindu ini, yang sebenarnya aku tahu pasti bahwa ini adalah hal yang salah.

Sebut saja aku bodoh. Tak apa-apa, akan kujawab nanti, siapa sih yang mau mengatur hati sendiri? Jika hati merasakan apa yang kita tak kehendaki, mau apa lagi?

Yang jelas, hingga saat ini, aku masih merindukannya dengan sangat, walau tak beralasan, tak berujung, juga tak jelas sendiri. Seperti tulisanku ini, tak tek pernah kusendiri mengerti.

 

 

Surat Rindu untuk Saudariku…

20160910_141324

Teruntuk rinduku…

Galuh Zamzammy dan Wahyu Widiyanti…

 

Telah banyak hari berlalu, telah banyak waktu terkenang, telah banyak memory dalam ingatan. Aku, kamu, dan dia selalu tetap menjadi satu kesatuan. Itulah doaku..

Dibulan yang semoga penuh keberkahan ini, kamu dan dia diberikan kelanjutan usia. Tahun lalu, kita masih bisa merasakannya bersama, menjahili satu sama lainnya. Berpura-pura lupa, pada hari yang kamu dan dia anggap special. Dan aku, yang siap pasang aksi seolah-olah propoganda.

Dalam surat ini, sebenarnya bukan untuk mempromosikan hari jadi kamu dan dia. Tapi, dalam surat ini, aku ingin menulis sebera besar rindu yang kutanggung untuk kamu dan dia. Katakanlah, aku childis, tak apa. Tak masalah buatku, yang jelas, aku hanya ingin kamu dan dia juga mereka tahu bahwa aku sedang merindu. Dan teruntuk kali ini, menurutku rinduku tak salah.

Berbeda dengan setiap rindu yang kupunya dan sering kali aku tumpahkan kepadamu dan dia, yang sebenarnya aku juga tahu rindu itu salah. Lalu, kupaksa kamu dan dia untuk mendengarkan dan menganggapnya lumrah. Itu lebih egois bukan? Dan kamu dan dia harus tahu, bahwa aku baru menyadarinya.

Rindu yang kupunya kali ini sungguh luar biasa berbeda, aku rindu pada yang membuatku jatuh cinta. Kamu dan dia. Ya, kamu dan dia yang membuatku jatuh cinta seutuhnya.

Kamu dan dia bukan sekedar teman seasrama, bukan sekedar teman hanya untuk bisa disapa, bukan sekedar teman ketika ada maunya, juga bukan sekedar teman hidup selama masa-masa disekolah. Tapi ternyat lebih dari itu, kamu dan dia adalah pola hidupku selanjutnya.

Kamu dan dia juga aku adalah satu kesatuan yang berbeda. Hanya berharap pada tali takdir untuk menyatukan kisah kita, dari ego, otak dan perangai yang berbeda.

Dan setelahnya membuatku jatuh cinta, karna kamu dan dia adalah saudariku tanpa jalinan darah, tapi tali ukhuwah menyatukan kita. Berharap kelak takdir dan waktupun meridhoi kita untuk bertemu bertatap muka sambil bertegur sapa tanpa batas jeda, lalu bercerita seperti biasa. Aku rindu bagian itu.

Dan kamu juga dia, wahai sahabatku, saudariku juga tambatan rinduku. Kamu dan dia harus tau, aku jatuh cinta, kali ini dengan sungguh-sungguh. Tanpa cela, tanpa kebohongan belaka, juga tanpa nafsu yang sering diagungkan manusia seperti kita.

Aku rindu dengan hadirnya kita, waktu yang biasanya kita buang percuma, aku rindu tertawa bersama, bergelayut manja saat aku lelah. Juga sama-sama seolah-olah merasa duka ketika satu sma lainnya sedang tertimpa musibah.

Jika aku bisa terbang menembus waktu juga jarak yang telah membuat kita tak bisa bersama, aku ingin sekali menerjang langsung melesat ketempat dimana kamu dan dia sekarang berada.

Ingin berada dalam dekap kasih seorang saudara, ingin berada dalam rengkuhan kasih seorang kakak, juga ingin menangis sekaligus tertawa bahagia bersama sahabat tercinta. Lalu pergi meninggalkan sesak rindu yang teramat sangat dan terus bertambah seiring waktunya.

FB_IMG_14927066569678880

Memandang dunia bersama, merangkai mimpi yang bahkan terdengar gila, juga merangkai list-list kehidupan selanjutnya. Itu bukan yang dulu sering kita lakukan?

Dan sungguh, aku bersyukur kepada waktu yang telah mempertemukan kita. Bersyukur pada keadaan yang pernah menyatukan kita. Juga pada kamu dan dia yang telah mengajariku begitu banyak tentang cinta sesungguhnya.

Dan sungguh, dibelahan bumi manapun kamu dan dia sekarang berada. Aku harap Allah selalu menyatukan hati kita, membuat kita sejalan dan seirama. Walaupun tak pernah seiya dan sekata saat bersama, itu tak menjadi masalah. Karna pertengkaran-pertengkaran kecil itulah yang membuat manis cerita kita kini dan selanjutnya.

Dan yang terakhir, serkali lagi…

Aku merindukanmu juga dia…

Dari yang sedang menangis,

karna rindu yang terus bertambah…

Siti Nihlatul Fuadah…

 

 

Aku Bercerita #Part 1

Entah apa yang ingin aku tulis sebenarnya. Hanya saja, bayangannya dan waktu dalam kenangnya mengalir begitu saja ketika lelahku menyapa tapi kantukku belum juga datang. 

Sebut saja itu si Dia yang kupuja dan selalu terekam dalam anganku saja. Dia yang kusebut namanya hampir disepanjang doa, dia yang selalu terlintas dalam benakku dalam waktu kosongku. Sehingga sering kali waktuku habis tak bermutu. 

Aku tahu, aku salah. Aku mengerti dengan pasti kesalahan, kebodohan, ketololan apa yang kubuat untuk diriku sendiri. Berimajinasi dan bermimpi tanpa pernah terealisasi itu sungguh bukti nyata kesalahan besar bagiku karna membuang-buang waktu. Dan hanya dia yang menjadi bayang dan anganku saja yang aku pendam.

Dari awal hatiku memilih jatuh, aku tahu itu salah. Karna ketika sesuatu yang jatuh apapun itu bentuk dan keadaannya pasti akan terasa sakit bukan? Dan itu yang aku pilih. Aku memilih menjatuhkan hati pada dia yang tak sekalipun menoleh padaku. Kepada dia yang hanya menganggapku anak kecil yang tak pantas untuk membicarakan hal-hal remeh yang menyangkut hati. Dia bilang aku belum mengerti apa-apa ketika itu. Tapi ternyata dia salah. 

Bertahun-tahun berlalu perasaan ini tetap sama. Walaupun tanpa bertemu atau bertatap muka. Juga tak berkabar dan kosong berita tapi tetap saja perasaan ini ada. Dan sungguh, aku bingung harus bagaimana menetralkannya seperti semula. Sebelum hatiku jatuh, sejatuh-jatuhnya pada dia yang kadang menganggapkupun tak ada. 

Seorang teman berkata. “Jika kamu menjatuhkan hati itu adalah sesuatu yang sangat salah. Seharusnya kamu memberikan hati bukan menjatuhkan hati. Dan mulai sekarang coba belajar memberikan hati pada orang yang mau menerimanya. Bukan pada orang yang kadang malah mengabaikannya.” 

Dan sekarang hatiku bukan melemah ketika ingat dia dan kusambungkan dengan nasihat kecil temanku diatas. Aku makin bingung. Hatiku malah meronta dan tak berhenti juga bertambah berdebar ketika ingat dia. 

Ya Tuhan, jika boleh memilih aku tak mau mendengar nasihat kecil itu saja. Aku tak mengerti dengan perasaan yang aku punya sendiri. 

Jatuh atau  memberi hati? Aku tak tahu pasti mana yang sedang aku alami saat ini. 

Yang jelas, dia masih ada dalam benakku ketika setelah hampir satu tahun ini aku memilih menjauh. 

Dan dia masih senantiasa tersebut dalam doaku.